Kapan kita ingin bahagia? Barangkali pertanyaan ini aneh namun terdengar logis di telinga. Tanpa kita sadari, kita seringkali menangguhkan waktu untuk berbahagia. Kita seringkali mendengar orang yang mengatakan, "Saya baru akan merasa bahagia kalau telah memiliki seorang pendamping hidup." Atau, "Mungkin saya akan bahagia kalau penghasilan saya bisa lebih besar dari saat ini." Yang lain mengatakan, "Kebahagiaan saya akan terwujud kalau saya telah memiliki rumah dan mobil pribadi."
Mengapa harus menunggu waktu atau menantikan sesuatu hanya untuk merasa bahagia, padahal kita bisa berbahagia setiap waktu, dan setiap saat?
Barangkali akan terdengar lebih logis ketika seseorang mengatakan, "Bagaimana mungkin saya bisa bahagia kalau saat ini saya tengah dililit hutang? Kalau hutang saya telah lunas, barulah saya bisa merasa bahagia." Dan ketika hutang telah lunas, anak sakit keras dan dirawat di rumah sakit. Kita pun menangguhkan lagi waktu untuk berbahagia. Ketika anak sembuh, barang-barang berharga hilang dicuri orang, dan rasanya sangat tak masuk akal kalau sampai bisa merasa bahagia. Ketika barang yang hilang berhasil ditemukan atau kita bisa membeli yang lebih bagus., televisi rusak dan perlu direparasi. Dan kita pun berpikir, bagaimana bisa bahagia kalau tak bisa menonton acara favorit di televisi?
Kalau kita mendasarkan kebahagiaan pada sesuatu atau pada suatu waktu tertentu, maka kebahagiaan akan seperti bayang-bayang. Kita melihatnya dengan jelas ada di depan mata, tapi ketika kita mencoba meraihnya, ia pun beranjak semakin jauh dan kita terus mencoba untk meraihnya.
Kebahagiaan ada di setiap hari, yang diperlukan hanyalah pikiran yang terbuka untuk bisa memahaminya. Kebahagiaan ada di setiap hati, dan yang perlu kita lakukan hanyalh menemukan serta mensyukurinya…
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar